Senin, 05 Maret 2012

DISTRiBUSI PENDAPATAN, KETIMPANGAN, KEMERATAAN DAN KESEJATERAAN SOSIAL


1.     Distribusi pendapatan
Distribusi pendapatan adalah bagaimana tingkat penyebaran pendapatan disuatu wilayah atau daerah. Permasalahan ekonomi yang umum dalam ekonomi adalah kemiskinan, pengangguran dan penyediaan kesempatan kerja, serta inflasi dan lain-lainnya.  Di indonesia, kemiskinan merupakan salah satu masalah yang paling sulit dibenahi, bahkan dari tahun ke tahun angka nominal kesmiskinan di Indonesia cendrung meningkat. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya kemiskinan, salah satunya adalah tidak meratanya distribusi pendapatan.
Ketidakmerataan distribusi pendapatan juga bisa disebabkan berbagai hal, salahsatunya dapat disebabkan oleh sistem ekonomi yang di anut oleh suatu wilayah, atau negara. Suatu negara yang menganut sistem kapitalis murni, berkemungkinan besar akan bisa mengalami ketimpangan pendapatan. Karena sifat atau ciri sistem ekonomi kapitalis adalah mengakui adanya private goods. Setiap orang berhak memiliki apapun sebagai milik pribadi jika ia memiliki kemampuan untuk mendapatkanny atau memperolehnya. Hal ini lah yang dapat menyebabkan ketimpangan atau tidak meratanya distribusi pendapatan. Apabila seseorang memiliki kapital yang banyak, maka ia dapat membuka usaha, sehingga ia akan bisa memiliki Akumulasi modal. Sementara orang orang yang pada awalnya tidak memiliki kapital , tetap tidak bisa memiliki kapital.

Ada dua jenis pendapatan :
·         Labor income, meliputi upah (wages) dan gaji (salaries), benefit serta berbagai jenis labor income lainnya
·         Property Income, meliputi sewa (rent), bunga tabungan (interest paid on saving account), laba perusahaan (corporate profit), dan proprietors income atau disebut juga sebagai laba perusahaan perseorangan.

2.      Ketimpangan dan Kemerataan
Ketimpangan distribusi pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan rendah 40% terendah dibandingkan dengan total pendapatan seluruh penduduk.
ketidakmerataan (ketimpangan pendapatan) dapat disebabkan oleh keberagaman faktor faktor produksi yang dimiliki oleh setiap orang dalam suatu daerah/wilayah. Semakin banyak faktor produksi yang dimiliki oleh seseorang, maka berkemungkinan besar ia akan memiliki pendapatan yang juga semakin besar. Apabila suatu daerah memiliki ketidakmerataan pendapatan atau ketimpangan yang besar, maka akan menyebabkan meningkatnya angka kriminalitas , kesenjangan sosial.
Dalam indeks Atkinson (1970) ketidakmerataan terdapat perbedaan dalam mengukur pendapatan dan mengukur keterlibatan kerugian social dalam distribusi pendapatan yang tidak merata dalam pendapatan sama. Atkinson mengukur ketidakmerataan distribusi pendapatan dengan pengurangan persentase pendapatan total yang dapat dijadikan penompang tanpa mengurangi kesejahteraan social. Pada ketidakmerataan lebih, distribusi pendapatan sekarang, lebih mengurangi pendapatan total yang dat menompang tanpa merugikan kesejahteraan social dengan distribusi pemerataan otal yang baru.
                Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengukur atau melihat tingkat distribusi pendapatan, salah satunya adalah dengan mengguanakan kurva lorenz. Kurva lorenz adalah kurva yang menunjukkan tingkat distribusi pendapatan.


 Gambar 1. Kurva lorenz

                Semakin dekat garis lorenz (garis 45o) ke garis Diagonal, berarti semakin merata pendapatan. Sebaliknya semain menjauhi garis lorenz, berarti semakin tidak merata pendapatan. Apabila semakin jauh dari garis lorenz, berarti semakin tidak merata pendapatan dan berarti semakin banyak orang miskin.
                Kategori ketimpangan ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut :
·         ketimpangan pendapatan tinggi
·         ketimpangan pendapatan sedang
·         ketimpangan pendapatan rendah
               
               

3.     Kemiskinan
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar, maka tidak ada satu garis
kemiskinan yang dapat berlaku umum. Namun demikian beberapa indikator atau garis  kemiskinan yang telah digunakan adalah:
1. Di India, dikatakan miskin jika income/kapita/bulan lebih kecil daripada Rs 20 pada tingkat harga 1960-1961.
2. Di Malaysia miskin bila income/kapita/bulan lebih kecil daripada $ 33 pada tahun 1970.
3. Di Filipina miskin di kota bila income/kapita/bulan lebih kecil daripada P 576 dan lebih kecil daripada P 330 di desa pada tahun 1973. (P = mata uang Peso).
4. Sayogyo di Indonesia 1973, miskin di kota bila income/kapit/tahun lebih kecil daripada ekivalen 360 kg beras, di desa bila income/kap/thn lebih kecil daripada ekivalen 240 kg beras.
5. Menurut Dandekar & Ralth tahun 1973 di India, miskin bila income/ kapita/hari lebih kecil daripada nilai ekivalen 2.250 kalori.
6. Menurut Ptawardhan tahun 1973 di India, miskin bila income/kapita/hari lebih kecil daripada nilai ekivalen 2.100 kalori.
7. Menurut Sukhame tahun 1973 di India, miskin bila income/kapita/hari lebih kecil daripada nilai ekivalen 2.350 kalori.
8. Menurut FAO tahun 1973, miskin bila income/kapita/hari lebih kecil daripada nilai 2.150 kalori.

3.1.Penyebab dan Jenis-jenis Kemiskinan
            Penyebab kemisikinan sangat banyak, antara penyebab dan akibat sering berbalik
misalnya miskin disebabkan pendidikan rendah, juga pendidikan rendah disebabkan
miskin. Penyebab dan jenis-jenis kemiskinan belum ada yang baku atau standar, sering
terjadi tumpang tindih.

Secara garis besarnya dapat diungkapkan antara lain :
1. Kemiskinan alami (natural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan alam suatu daerah yang miskin. Contohnya dulu di daerah Gunung Kidul yang tanahnya/alamya sangat miskin sehingga penduduknya banyak yang miskin. Kemiskinan ini hanya dapat di atasi dengan bantuan dari luar daerah.
2. Kemiskinan budaya (kultural) adalah kemiskinan yang disebabkan kondisi sosial budaya penduduk di daerah itu mendukung kemiskinan. Contoh di Nias karena banyaknya pesta adat sehingga terjadi utang adat dan akhirnya mereka menjadi miskin. Kemiskinan ini sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk diatasi.
3. Kemiskinan struktur (structural) adalah kemiskinan yang disebabkan keadaan struktur pemerintahan, struktur pendistribusian fasilitas yang membuat suatu daerah penduduknya menjadi miskin. Contoh, penduduk di luar Jawa banyak miskin karena hasil minyak lebih banyak digunakan di Jawa.
            Kemudian, salah seorang ahli juga mengungkapkan bahwa pada zaman kolonial Belanda di Jawa telah terjadi industrialisasi pertanian (perkebunan tebu milik Belanda) yang dihimpitkan di atas pola ekologi sawah (padi sawah rakyat). Himpitan ini disambut oleh petani sawah dengan cara adaptasi mekanisme kalahkan diri sendiri, yang akhirnya menumbuhkan kemiskinan bagi petani.

1 komentar :